SEMUA INFORMASI TENTANG KAMI

Temukan di sini semua informasi tentang Walhi Kalbar, mulai dari program, berita, kegiatan dan berbagai info terkait lainnya

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Saturday, June 1, 2024

Orang-Orang Sabar Bubu: Penjaga Tanah Leluhur

Orang-Orang Sabar Bubu: Penjaga Tanah Leluhur

Jenis: Komik
Cerita: Maratushsholihah
Illustrator: Maratushsholihah, Fikri Maswandi
Editor: WALHI Kalimantan Barat
Penerbit: WALHI Kalimantan Barat
Tahun Terbit: Juni 2024
Format: PDF

Deskripsi:
Komik ini mengangkat perjuangan masyarakat Adat Dayak Kualan di Sabar Bubu, Desa Kualan Hilir, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, dalam mempertahankan tanah leluhur dan ruang hidup mereka dari ekspansi industri ekstraktif.

Kehadiran PT. Mayawana Persada yang memperoleh izin perkebunan kayu dalam skala luas telah memunculkan berbagai persoalan sosial dan ekologis. Hutan alam dibabat, lahan pertanian warga digusur, kawasan adat dirusak, hingga bukit yang dijaga secara adat turut ditebangi.

Komik ini juga merekam situasi kriminalisasi yang dialami warga ketika mempertahankan wilayah hidupnya. Di tengah perjuangan tersebut, masyarakat tidak hanya mempertahankan tanah, tetapi juga menjaga martabat, sejarah, dan warisan leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Melalui medium cerita bergambar, publikasi ini berusaha menghadirkan gambaran yang lebih dekat, mudah dipahami, dan membumi mengenai konflik sosial-ekologis yang dialami masyarakat di sekitar konsesi PT. Mayawana Persada.

Buku ini juga menjadi bagian dari upaya advokasi WALHI Kalimantan Barat bersama masyarakat dan jaringan organisasi masyarakat sipil dalam mendorong perlindungan hak-hak warga, pemulihan ruang hidup, dan penghentian praktik deforestasi yang merusak.

Penutup:
Komik ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami situasi ketidakadilan yang dialami masyarakat Adat Dayak Kualan serta pentingnya menjaga hutan dan ruang hidup sebagai warisan bersama lintas generasi.

Salam adil dan lestari!

Download: Orang-Orang Sabar Bubu: Penjaga Tanah Leluhur

Friday, December 1, 2023

Buku: Kearifan Lokal Tidak Mati: Pembelajaran dari Masyarakat Adat Dayak Bakatik Banua Lumar dalam Menjawab Perubahan Iklim

Kearifan Lokal Tidak Mati

Pembelajaran dari Masyarakat Adat Dayak Bakatik Banua Lumar dalam Menjawab Perubahan Iklim

Jenis: Buku
Penulis: Hendrikus Adam dan Hilarinus Tampajara
Editor: Richardus Giring
Desain Visual: Rudy Fransiskus
Foto: Dokumentasi WALHI Kalbar
Penerbit: WALHI Kalbar, didukung oleh Foreign & Commonwealth Office
Tahun Terbit: September 2013 (Cetakan I)
ISBN: 978-602-18675-2-5
Format: PDF

Deskripsi:
Buku Kearifan Lokal Tidak Mati mengangkat pembelajaran dari Masyarakat Adat Dayak Bakatik Banua Lumar dalam merespons perubahan iklim melalui praktik pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal.

Perubahan iklim merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia yang tidak terkendali dalam merusak bumi. Akumulasi emisi dari sistem produksi yang berlebihan telah mendorong pemanasan global dan mengancam keberlanjutan kehidupan.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat adat menunjukkan cara hidup yang berbeda. Dengan pengetahuan lokal dan relasi yang kuat dengan alam, mereka tetap mampu menjaga keberlanjutan lingkungan meskipun menghadapi tekanan dan perampasan wilayah.

Buku ini menjelaskan bagaimana praktik pengelolaan sumber daya oleh Masyarakat Adat Dayak Bakatik Banua Lumar menjadi bagian penting dalam menjawab perubahan iklim, sekaligus menjadi alternatif terhadap pendekatan pembangunan yang dominan.

Penutup:

Publikasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan untuk memahami peran masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan ekologis serta mendorong pengakuan terhadap pengetahuan lokal dalam kebijakan lingkungan.

Salam adil dan lestari!

Download:

Thursday, May 11, 2023

Jalan Kehidupan: Sebuah Dokumentasi Pengelolaan Ladang oleh Komunitas Masyarakat di Binua Sunge Samak

Jalan Kehidupan: Sebuah Dokumentasi Pengelolaan Ladang oleh Komunitas Masyarakat di Binua Sunge Samak

Jenis: Buku
Penulis: Hendrikus Adam
Ilustrator: Ayu Murniarti (Sampul), Handri Petrus (Isi)
Sumber Foto: Hendrikus Adam / WALHI Kalimantan Barat
Desain Visual: Wirza Rachman
Penerbit: WALHI Kalimantan Barat
Dukungan: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia
Tahun Terbit: 2016 (Cetakan I), 2018 (Cetakan II)
Format: PDF

Deskripsi:
Buku ini merekam praktik berladang sebagai bagian dari “jalan kehidupan” masyarakat di Binua Sunge Samak. Berladang tidak hanya dipahami sebagai aktivitas produksi pangan, tetapi sebagai sistem pengetahuan yang membentuk identitas, budaya, dan relasi sosial komunitas.

Di dalamnya terdapat lebih dari 20 tahapan Bauma Tahutn yang diwariskan secara turun-temurun, mulai dari Bahaupm hingga Mipis Banih atau Roah. Praktik ini menunjukkan bahwa pengelolaan lahan dilakukan secara terukur, berhati-hati, dan berbasis kearifan lokal.

Buku ini menegaskan bahwa praktik berladang bukan sekadar “tebas-bakar”, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang memiliki pengetahuan, aturan, dan tanggung jawab ekologis.

Dalam konteks kebijakan, publikasi ini merujuk pada pentingnya pengakuan terhadap kearifan lokal sebagaimana amanat UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Penutup:
Publikasi ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memahami praktik pengelolaan lahan berbasis pengetahuan lokal, serta mendorong kebijakan yang lebih adil dan tidak represif terhadap masyarakat.

Salam adil dan lestari!

Download: 


\

Monday, January 2, 2023

Buku: Potret Buram Sawit Perbatasan Indonesia–Malaysia

 

Potret Buram Sawit Perbatasan Indonesia–Malaysia


Jenis: Buku
Penulis: Hendrikus Adam dan Nikodemus Ale
Penerbit: WALHI Kalbar, didukung oleh Milieu Defensie
Tahun Terbit: 2012 (Cetakan I)
ISBN: 978-602-18675-0-1
Jumlah Halaman: 121 halaman
Format: PDF

Deskripsi:
Buku Potret Buram Sawit Perbatasan Indonesia–Malaysia merupakan telaah mengenai praktik ekspansi perkebunan kelapa sawit oleh Group Duta Palma Nusantara melalui PT. Ledo Lestari di Desa Semunying Jaya, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Sejak awal 2000-an, ekspansi sawit di wilayah perbatasan Indonesia Malaysia berkembang pesat. Data WALHI Kalbar mencatat sedikitnya 50 perusahaan perkebunan beroperasi dengan total izin mencapai ratusan ribu hektar, yang sebagian besar merupakan perkebunan kelapa sawit.

Masuknya PT. Ledo Lestari dengan konsesi mencapai 29.000 hektar, di mana sekitar 23.000 hektar berada di wilayah Desa Semunying Jaya, telah memicu konflik agraria dan tekanan terhadap ruang hidup masyarakat adat Dayak Iban.

Buku ini disusun berdasarkan hasil investigasi lapangan, wawancara dengan warga, serta pendampingan kasus oleh WALHI Kalbar bersama jaringan masyarakat sipil.

Penutup:
Publikasi ini menjadi catatan penting atas praktik pembangunan perkebunan di wilayah perbatasan yang berdampak pada kehidupan masyarakat adat, serta dapat menjadi rujukan bagi upaya perlindungan lingkungan hidup dan pemenuhan hak masyarakat.

Salam adil dan lestari!

Download:




Sunday, January 1, 2023

Buku: Gambut untuk Kehidupan Pengetahuan: Praktik Pemanfaatan, Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Gambut Berdasarkan Kearifan Lokal

Gambut untuk Kehidupan

Pengetahuan, Praktik Pemanfaatan, Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Gambut Berdasarkan Kearifan Lokal

Jenis: Buku
Penulis: Hendrikus Adam
Editor: R. Giring
Dokumentasi Foto: Hendrikus Adam, Andreas S. Illu
Desain dan Tata Letak: Wirza Rachman
Penerbit: WALHI Kalimantan Barat
Tahun Terbit: 2018 (Cetakan I, Mei)
Dukungan: Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Format: PDF

Deskripsi:
Buku ini lahir dari kegelisahan atas narasi dominan yang terus menyalahkan peladang sebagai penyebab utama kebakaran hutan dan lahan. Dalam banyak peristiwa karhutla, masyarakat justru menjadi pihak yang pertama terdampak, kehilangan ruang hidup sekaligus menghadapi kriminalisasi.

Melalui kerja dokumentasi dan refleksi lapangan, WALHI Kalimantan Barat menunjukkan bahwa praktik berladang yang dilakukan masyarakat tidak sesederhana “tebas-bakar”, melainkan bagian dari sistem pengetahuan yang memiliki mekanisme pengendalian, pencegahan, dan tanggung jawab ekologis.

Buku ini juga menyoroti bahwa kebakaran meluas justru banyak terjadi di kawasan gambut yang telah rusak akibat ekspansi industri ekstraktif. Sementara itu, penegakan hukum kerap tidak menyentuh korporasi, memperlihatkan ketimpangan yang terus berulang dalam tata kelola lingkungan hidup.

Dengan mendekat pada pengalaman komunitas, publikasi ini mengajak pembaca untuk melihat kembali relasi antara manusia dan ekosistem gambut, sekaligus menegaskan pentingnya pengakuan terhadap kearifan lokal sebagai bagian dari strategi perlindungan dan pemulihan lingkungan.

Penutup:

Buku ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memahami praktik-praktik pengelolaan gambut berbasis rakyat, serta mendorong pendekatan kebijakan yang lebih adil, tidak represif, dan berakar pada pengalaman hidup masyarakat.

Salam adil dan lestari!

Download:

Buku: Kelola Rakyat atas Ekosistem Rawa Gambut: Pelajaran Ragam Potret dan Argumen Tanding

Kelola Rakyat atas Ekosistem Rawa Gambut

Pelajaran Ragam Potret dan Argumen Tanding

Jenis: Buku
Penerbit: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
Tahun Terbit: 2016
Dukungan: Climate and Land Use Alliance (CLUA)
Tim Kerja:
Achmad Rozani (Eksekutif Nasional WALHI), Boy Jerry Even Sembiring (WALHI Riau), Dwi Nanto (WALHI Jambi), Eko Cahyono (Sajogyo Institute), Hairul Sobri (WALHI Sumatera Selatan), Hendrikus Adam (WALHI Kalimantan Barat), Khalisah Khalid (Eksekutif Nasional WALHI), Maulida Azizah (WALHI Kalimantan Selatan), Tubagus Soleh Ahmadi (WALHI Sumatera Selatan)
Editor: Gus Roy Murtadho
Format: PDF

Deskripsi:
Buku ini merupakan hasil studi lapangan dari berbagai wilayah di Indonesia yang menghadirkan narasi tanding atas model pengelolaan sumber daya alam, khususnya di ekosistem rawa gambut. Melalui pengalaman masyarakat adat dan komunitas lokal, buku ini menegaskan bahwa krisis ekologis bukan sekadar bencana alam, tetapi akibat dari model pembangunan ekstraktif yang mengabaikan keselamatan rakyat.

Dalam konteks Kalimantan Barat, WALHI Kalbar terlibat langsung dalam kerja-kerja pemantauan, riset, dan advokasi di kawasan hidrologis gambut yang mengalami tekanan akibat ekspansi sawit dan industri kehutanan. Temuan-temuan di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan gambut tidak hanya berdampak pada ekologi, tetapi juga mempersempit ruang hidup masyarakat dan memicu konflik sosial.

Melalui buku ini, WALHI bersama jaringan masyarakat sipil memperkenalkan konsep Wilayah Kelola Rakyat sebagai pendekatan yang menempatkan rakyat sebagai subjek utama dalam pengelolaan ruang hidup, dengan prinsip keadilan ekologis dan keberlanjutan.

Penutup:
Publikasi ini menjadi bagian dari upaya advokasi untuk mendorong pengakuan wilayah kelola rakyat serta perubahan kebijakan yang berpihak pada keselamatan rakyat dan pemulihan ekosistem gambut.

Salam adil dan lestari!

Download:

Friday, January 1, 2021

17 Tulah yang Diwariskan oleh Perluasan Perkebunan Sawit di Kalimantan Barat

17 Tulah yang Diwariskan oleh Perluasan Perkebunan Sawit di Kalimantan Barat

Jenis: Buku
Penulis: Hendrikus Adam
Editor: Blasius Hendi Candra
Ilustrator: Zul MZ
Layout: The Djenggoet Production
Penerbit: WALHI Kalimantan Barat
Format: PDF

Deskripsi:
Buku ini mengulas dampak perluasan perkebunan kelapa sawit skala besar di Kalimantan Barat yang selama ini dijalankan atas nama pembangunan dan kesejahteraan. Di balik narasi investasi dan pertumbuhan ekonomi, ekspansi perkebunan sawit justru menghadirkan berbagai persoalan ekologis, sosial, budaya, hingga ekonomi kerakyatan.

Hutan, tanah, dan air yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan masyarakat perlahan mengalami kerusakan akibat konversi kawasan dalam skala luas. Kehilangan hutan tidak hanya berarti hilangnya ruang ekologis, tetapi juga hilangnya sumber pangan, obat-obatan tradisional, serta ruang hidup masyarakat.

Melalui ilustrasi dan dokumentasi berbasis fakta lapangan, publikasi ini menggambarkan “17 tulah” atau dampak buruk yang diwariskan oleh model pembangunan perkebunan monokultur di Kalimantan Barat. Buku ini sekaligus menjadi pengingat bahwa investasi tanpa perlindungan terhadap lingkungan hidup dan hak masyarakat hanya akan melahirkan krisis berkepanjangan.

Data yang digunakan dalam buku ini merujuk pada situasi perkebunan sawit di Kalimantan Barat hingga tahun 2009, ketika ratusan perusahaan telah mengantongi izin penguasaan lahan dalam skala sangat luas.

Penutup:
Buku ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi sekaligus pembelajaran mengenai risiko ekspansi perkebunan sawit skala besar terhadap lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat di Kalimantan Barat.

Salam adil dan lestari!

Download: 17 Tulah yang Diwariskan oleh Perluasan Perkebunan Sawit di Kalimantan Barat

Saturday, October 31, 2020

Mengenal Masyarakat Adat Dayak Seberuang Kampung Silit: Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang

Mengenal Masyarakat Adat Dayak Seberuang Kampung Silit: Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang

Jenis: Buku
Penulis: Hendrikus Adam
Penerbit: WALHI Kalimantan Barat
Tahun Terbit: 2020 (Cetakan I, November)
Format: PDF

Deskripsi:
Buku ini merupakan dokumentasi mengenai keberadaan Masyarakat Adat Dayak Seberuang di Kampung Silit, Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang. Disusun berdasarkan pengalaman lapangan, percakapan dengan warga, pengumpulan informasi lisan, serta relasi emosional yang tumbuh antara penulis dan masyarakat Kampung Silit dalam perjalanan yang berlangsung selama beberapa waktu.
Melalui publikasi ini, pembaca diajak mengenali kehidupan masyarakat Dayak Seberuang sebagai bagian dari komunitas Dayak Ibanik yang hidup dengan adat, pengetahuan lokal, serta relasi kuat terhadap tanah, hutan, dan sumber kehidupan mereka. Kampung Silit digambarkan bukan sekadar ruang tinggal, tetapi juga ruang ingatan, ruang budaya, dan ruang hidup yang terus dipertahankan lintas generasi.

Buku ini lahir dari upaya mendokumentasikan puing-puing pengetahuan lisan masyarakat yang selama ini diwariskan secara turun-temurun. Kehadirannya juga menjadi bagian dari proses memperkuat pengakuan terhadap keberadaan Masyarakat Adat Dayak Seberuang Kampung Silit, termasuk dalam perjuangan pengakuan wilayah dan hutan adat mereka.

Di tengah ancaman kebijakan pembangunan yang kerap menempatkan masyarakat adat sebagai kelompok rentan dan korban berlapis, publikasi ini diharapkan dapat menjadi pengingat penting mengenai perlunya keberpihakan terhadap masyarakat di komunitas beserta ruang hidupnya.

Selain itu, buku ini juga diharapkan menjadi energi bagi generasi Kampung Silit untuk terus menjaga adat budaya, mempertahankan tanah dan hutan, serta menggali kembali pengetahuan maupun potensi yang dimiliki komunitasnya sendiri.

Penutup:

Buku ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dekat Masyarakat Adat Dayak Seberuang Kampung Silit beserta sejarah, pengetahuan, dan relasi mereka dengan wilayah adatnya. Dokumentasi seperti ini penting untuk merawat ingatan kolektif sekaligus memperkuat perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan ruang hidup dan keberlanjutan generasi mendatang.

Salam adil dan lestari!

Download: